Rabu, 06 Juni 2012

PEMANFAATAN TEKNOLOGI PERTANIAN GIS DALAM PEMANFAATAN PENGGUNAAAN LAHAN

1.      PENDAHULUAN

Peningkatan produksi dengan masukan bahan kimia yang rendah, seperti pemupukan, sangat diperlukan karena sejak tahun 1980 kegiatan pertanian untuk produksi pangan yang tidak terkontrol menjadi penyebab pencemaran lingkungan [4].  Sebagai contoh aplikasi pupuk nitrogen dan fosfor yang berlebihan menjadi penyebab terjadinya pemanasan global dan hujan asam.  Salah satu masalah utama yang dihadapi bagi kehidupan manusia adalah pencemaran air tanah oleh nitrogen nitrat. 

Pertanian Presisi (precision farming/PF) merupakan informasi dan teknologi pada sistem pengelolaan pertanian untuk mengidentifikasi, menganalisa, dan mengelola informasi keragaman spasial dan temporal di dalam lahan untuk mendapatkan keuntungan optimum, berkelanjutan, dan menjaga lingkungan.  Tujuan dari PF adalah mencocokkan aplikasi sumber daya dan kegiatan budidaya pertanian dengan kondisi tanah dan keperluan tanaman berdasarkan karakteristik spesifik lokasi di dalam lahan [3].  Hal tersebut berpotensi diperolehnya hasil yang lebih besar dengan tingkat masukan yang sama (pupuk, kapur, herbisida, insektisida, fungisida, bibit), hasil yang sama dengan pengurangan input, atau hasil lebih besar dengan pengurangan masukan dibanding sistem produksi pertanian yang lain. PF mempunyai banyak tantangan sebagai sistem produksi tanaman sehingga memerlukan banyak teknologi yang harus dikembangkan agar dapat diadopsi oleh petani.  PF merupakan revolusi dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis teknologi informasi.

PF sebagai teknologi baru yang sudah demikian berkembang di luar Indonesia perlu segera dimulai penelitiannya di Indonesia untuk memungkinkan perlakuan yang lebih teliti terhadap setiap bagian lahan sehingga dapat meningkatkan produktivitas dengan meningkatkan hasil, menekan biaya produksi dan mengurangi dampak lingkungan.  Maksud tersebut dapat dicapai dengan PF melalui kegiatan pembuatan peta hasil (yield map), peta tanah (soil map), peta pertumbuhan (growth map), peta informasi lahan (field information map), penentuan laju aplikasi (variable rate application), pembuatan yield sensor, pembuatan variable rate applicator, dan lain-lain. Penggabungan peta hasil, peta tanah, peta pertumbuhan tanaman menghasilkan peta informasi lahan (field information map) sebagai dasar perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan spesifik lokasi yaitu dengan diperolehnya variable rate application.  Pelaksanaan kegiatan ini akan lebih cepat dan akurat apabila sudah tersedia variable rate applicator.

Sebagai awal dari pengkajian PF di Indonesia, penelitian ini belum sampai pada pembuatan perangkat keras seperti yield sensor, remote sensor, variable rate applicator, dan lain-lain. Di samping itu penelitian tidak dilakukan pada semua bagian kegiatan budidaya dan jenis tanaman. Penelitian ini dilakukan pada kegiatan pemupukan dan jenis tanaman tebu.

2.      TUJUAN

Tujuan dari aplikasi sistem informasi geografis dalam pertanian presisi adalah mempermudah dan mempercepat pengolahan dan penampilan data sebagai bagian dari sistem pendukung keputusan yang dibangun untuk strategi pemupukan pada budidaya tebu dengan pendekatan pertanian presisi.

3.       SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM PERTANIAN PRESISI

Pemakaian PF dalam praktek memerlukan pendekatan sistem terintegrasi yang baik yang mengkombinasikan teknologi keras (hard technology) dan sistem lunak (soft systems) seperti disajikan pada Gambar 1.
 


Gambar 1.  Interaksi dalam Pertanian Presisi [1]                

Pelaksanaan PF merupakan suatu siklus yang berkesinambungan dari tahap perencanaan (planning season), tahap pertumbuhan (growing season), dan tahap pemanenan (harvesting season) seperti disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2   Siklus proses dalam pertanian presisi [2]
                 
Pada saat ini banyak produsen tanaman menerapkan site-specific crop management (SSCM).  Pemantauan hasil secara elektronis (electronic yield monitoring) seringkali menjadi tahap pertama dalam mengembangkan SSCM atau program PF.  Data hasil tanaman yang presisi dapat digabungkan dengan data tanah dan lingkungan untuk memulai pelaksanaan pengembangan sistem pengelolaan tanaman secara presisi (precision crop management system). 

Menurut [5], komponen teknologi dari PF adalah : (1) global positioning system (GPS), (2) yield monitoring, (3) digital soil fertility mapping, (4) crop scouting , dan (5) variable rate  application (VRA).

PF diprediksi pada geo-referencing, yaitu penandaan koordinat geografi untuk titik-titik pada permukaan bumi.  Dengan global postioning system (GPS) dimungkinkan menandai koordinat geografi untuk beberapa objek atau titik dalam 5 cm, walaupun keakuratan dari aplikasi pertanian kisaran umumnya adalah 1 sampai 3 meter.  GPS adalah sistem navigasi berdasarkan satelit yang dibuat dan dioperasikan oleh Departemen Pertahanan Amerika  Serikat.  GPS telah  terbukti  menjadi  pilihan  dalam  postioning  system untuk PF.  Metode untuk meningkatkan keakuratan pengukuran posisi disebut koreksi diferensial atau DGPS (differential global postiong system).  Perangkat keras yang diperlukan adalah GPS receiver, differential correction signal receiver, GPS antenna, differential correction antenna, dan computer/monitor interface.

1.      PEMODELAN

Kerangka pendekatan PF dalam pemupukan N, P, dan K pada budidaya tebu yang diteliti disajikan pada Gambar 3.  Selanjutnya hal tersebut dikemas dalam suatu Sistem Pendukung Keputusan agar pengambilan keputusan dapat efektif, yang mana di dalamnya terdapat Sistem Informasi Geografis. Konfigurasi Sistem Pendukung Keputusan untuk pendekatan PF dalam pemupukan N, P, dan K pada budidaya tebu disajikan pada Gambar 4.

Gambar 3. Kerangka pendekatan pertanian presisi dalam
      pemupukan pada budidaya tebu


Gambar 4   Konfigurasi Sistem Pendukung Keputusan
                   untuk pendekatan pertanian presisi dalam
                   pemupukan pada budidaya tebu.
 
1.      TATA LAKSANA PENELITIAN

Penelitian telah dilaksanakan pada bulan April 2002 – Juli 2003 di perkebunan tebu PT Gula Putih Mataram, Wilayah Mataram Udik, Kecamatan Seputih Mataram, Kabupaten Lampung Tengah, Propinsi Lampung. Pada penelitian ini tidak dilakukan pembuatan yield sensor dan variable rate applicator.  Data hasil (yield) diperoleh dari pemanenan tebu secara manual.  Aplikasi pupuk dilakukan secara manual. 

Beberapa petak digunakan untuk lokasi plot-plot  percobaan.  Selanjutnya dilakukan pembuatan sel-sel di dalam plot (grid cell plotting) dan pemetaan plot percobaan Pembuatan peta tidak berdasarkan geo-referencing dengan global positioning system (GPS) tetapi dengan pemetaan secara konvensional. 

Sistem Pendukung Keputusan untuk Pendekatan Pertanian Presisi dalam Pemupukan N, P, dan K pada Budidaya Tebu yang dibangun diberi nama STRAFERT-PF.  Program komputer tersebut dibuat dalam bahasa Delphi 7.0.  STRAFERT-PF menggunakan empat software untuk mendukung operasionalnya, yaitu (1) Backpro2N dari Rudiyanto dan Budi Indra Setiawan, (2) GS+ for Windows dari Gamma Design Software, (3) Surfer 8 dari Golden Software, dan (4) ArcView 3.3 dari Environmental Systems Research Institute.

ArcView 3.3 digunakan untuk membuat peta spasial parameter-parameter seperti  kandungan hara tanah N, P, K; kandungan hara daun N, P, K; jumlah anakan tebu, jumlah daun, tinggi tebu, diameter tebu, persentase gap, kadar air tanah, jumlah tebu roboh, bobot biomassa tebu, persentase penutupan gulma, bobot tebu, bobot nira, nilai Brix, nilai Pol, nilai Purity, rendemen, dan taksasi tebu. Peta dari lahan yang menjadi cakupan penelitian ini didigitasi dengan ArcView 3.3 dan parameter-parameter pengamatan dimasukkan sebagai atribut peta tersebut.  Peta spasial hasil penelitian ini juga untuk menunjukkan kekurangan dan kelebihan pupuk serta dosis aplikasi pupuk yang dibutuhkan.

2.      HASIL DAN PEMBAHASAN

Tampilan awal  dan menu utama dari Sistem Pendukung Keputusan yang telah dibuat (STRAFERT-PF) masing-masing dapat dilihat pada Gambar 5 dan 6.

Pada menu utama dapat diakses Model Spasial untuk membuat peta spasial dengan menggunakan piranti lunak ArcView 3.3.
Pada penelitian ini, data dosis pupuk, populasi tebu, taksasi, dan kelebihan/kekurangan pupuk pada peta spasial tidak berdasarkan perhitungan dengan ArcView 3.3, tetapi data tersebut berdasarkan perhitungan yang sudah dilakukan sebelumnya dan kemudian baru dimasukkan sebagai atribut.  Oleh karena itu untuk menunjang efisiensi dan efektivitas sistem maka perlu perbaikan model spasial.

Selain itu pada penelitian ini pemetaan dilakukan secara konvensional, maka untuk efisiensi dan efektivitas sistem perlu penggunaan GPS pada pemetaan objek.

1.      KESIMPULAN DAN SARAN


7.1    Kesimpulan

Aplikasi Sistem Informasi Geografis dalam pertanian presisi pada kegiatan pemupukan di perkebunan tebu dapat mempermudah dan mempercepat pengolahan dan penampilan data sebagai bagian dari sistem pendukung keputusan untuk strategi pemupukan pada budidaya tebu dengan pendekatan pertanian presisi.

7.2    Saran

Untuk peningkatan efisiensi dan efektivitas sistem maka:
-    perlu perbaikan model spasial
-    perlu penggunaan GPS pada pemetaan objek.

APRESIASI

Ucapan terima kasih dan penghargaan disampaikan kepada
-      Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, yang telah memberikan dana melalui beasiswa dalam program BPPS.
-      Direksi Sugar Group Company beserta seluruh staf dan karyawan atas kesempatan serta dukungan dana, tenaga, maupun fasilitas dalam pelaksanaan penelitian di PT Gula Putih Mataram.
-      Prof.Dr.Ir. Supiandi Sabiham, M.Agr., Ir. Atang Sutandi, M.Si., Ph.D., dan Dr.Ir. Gunawan Sukarso, M.Sc. atas saran dan kritiknya.
-      Sdr. Rudiyanto dan Sdr. Muhammad Nur Hendiyanto yang telah membantu dalam pemrograman.
-      Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, atas dukungan moril maupun materiil.

DAFTAR PUSTAKA


[1] Blackmore S. (1994).  Precision Farming : an overview.  Agricultural Engineer 49(3):86-88.
[2]  Kuhar JE, editor (1997).  The Precision-Farming : Guide for Agriculturist.  Illinois: John Deer Publishing.
[3]  McBratney A, Whelan BM.  (1995).  The potential for site-specific management of cotton farming systems

Discussion Paper No. 1, Co-operative Research Center for Sustainable Cotton Production.  Australia.
[4]  Umeda M, Iida M, and Suguri M.  (1999).  Research at laboratory of farm machinery of KyotoUniversity.  ASAE/CSAE-SCGR Annual International Meeting.  Toronto Canada.
[5] Wolf  SA, Wood SD. (1997).  Precision farming : environmental legitimation, commodification of information, and industrial coordination.  The Rural Sosiological Society.  Rural Sociology 62(2):180-206 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar